3 Desa Adat Tanpa Sinyal di Indonesia, Cocok untuk Detoks Digital dan Healing
Ingin rehat sejenak dari gadget dan hiruk-pikuk dunia digital? Berikut 3 desa adat tanpa sinyal di Indonesia yang menawarkan suasana tenang, asri, dan cocok untuk detoks digital.
SUKAMUDA.co.id - Saat ini aktivitas semakin bergantung pada teknologi, sulit rasanya untuk benar-benar berjauhan dari gadget. Notifikasi, media sosial, berita, hingga berbagai aktivitas digital yang muncul setiap hari terkadang membuat pikiran terasa penuh dan melelahkan.
Karena itu, mengambil waktu sejenak untuk beristirahat dari dunia digital bisa menjadi pilihan untuk menyegarkan pikiran. Salah satu caranya adalah mengunjungi desa adat yang masih mempertahankan kehidupan tradisional dan minim akses teknologi.
Bahkan, beberapa desa adat di Indonesia dikenal memiliki keterbatasan jaringan seluler sehingga wisatawan bisa menikmati liburan tanpa terus-menerus memeriksa ponsel. Berikut tiga desa adat yang bisa menjadi pilihan untuk melakukan detoks digital.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Pantai di Sukabumi yang Cocok untuk Healing
1. Baduy Dalam
Baduy Dalam merupakan salah satu kawasan adat yang terkenal dengan kehidupan masyarakatnya yang masih memegang teguh aturan leluhur. Berada di Kabupaten Lebak, Banten, masyarakat Baduy Dalam menerapkan berbagai aturan adat, termasuk pembatasan terhadap penggunaan teknologi modern.
Kawasan ini juga dikenal minim jaringan telekomunikasi. Pengunjung pun dapat merasakan pengalaman berbeda karena aktivitas sehari-hari lebih banyak dilakukan tanpa bantuan gadget.
Perjalanan menuju kawasan Baduy Dalam juga menjadi pengalaman tersendiri. Wisatawan harus berjalan kaki melewati jalur perbukitan dan sungai. Jauh dari suara kendaraan serta notifikasi ponsel, suasana alam seperti suara aliran air dan hembusan angin dapat menjadi teman selama berada di sana.
Baca Juga: 5 Kota di Jepang untuk Liburan Hemat, Cocok buat Traveler dengan Budget Terbatas
2. Wae Rebo
Wae Rebo berada di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Desa adat ini populer dengan julukan “kampung di atas awan” karena lokasinya berada di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Lokasinya yang terpencil membuat akses komunikasi tidak semudah di kawasan perkotaan. Kondisi tersebut justru dapat menjadi kesempatan bagi wisatawan untuk mengurangi ketergantungan terhadap gadget dan menikmati suasana alam.
Di Wae Rebo, pengunjung dapat merasakan kehidupan masyarakat lokal sekaligus menikmati suasana rumah adat Mbaru Niang. Menyeruput kopi Flores sambil menikmati udara pegunungan bisa menjadi cara sederhana untuk memperlambat ritme kehidupan yang biasanya serba cepat.
Baca Juga: 5 Tips Camping di Dekat Sungai agar Aman, Nyaman, dan Terhindar dari Banjir Bandang
3. Kampung Naga
Kampung Naga merupakan salah satu kampung adat di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Kawasan ini dikenal karena masyarakatnya masih mempertahankan berbagai tradisi dan pola kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.
Lokasinya berada di kawasan lembah yang dikelilingi perbukitan sehingga akses komunikasi tidak seperti di wilayah perkotaan. Suasana tersebut membuat pengunjung dapat lebih fokus menikmati lingkungan sekitar tanpa terus terpaku pada layar ponsel.
Selain menikmati suasana kampung yang asri, wisatawan juga dapat mengenal berbagai kerajinan yang dibuat masyarakat setempat. Mulai dari anyaman, kerajinan berbahan batok kelapa, hingga berbagai karya seni lokal dapat ditemukan di kawasan ini.
Sumber: dari berbagai sumber