Simpan Kekayaan Hayati dan Ratusan Mikroba Potensial, BRIN Bongkar Rahasia Gunung Laut Indonesia
Gunung Laut Indonesia adalah Keanekaragaman Hayati
Sukamuda.co.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap gunung laut (seamount) merupakan laboratorium alami yang menyimpan kekayaan geologi sekaligus menjadi habitat penting bagi keanekaragaman hayati laut dalam Indonesia.
Temuan ini memperkuat peran gunung laut sebagai ekosistem strategis yang mendukung kesehatan laut dan menjadi dasar ilmiah bagi pengelolaan serta konservasi sumber daya kelautan secara berkelanjutan.
Hasil tersebut merupakan bagian dari riset kolaboratif BRIN bersama OceanX dalam Indonesia Mission 2024–2026 yang dipaparkan pada Simposium Marine Futures Unlocked 2: From Insight to Impact di Grand Ballroom BRIN, Jakarta, Kamis (24/7).
Peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Marina C.G. Frederik, menjelaskan bahwa gunung laut merupakan bentang alam bawah laut yang menyimpan informasi penting mengenai evolusi geologi Bumi, aktivitas vulkanik purba, hingga dinamika oseanografi yang memengaruhi kehidupan laut di sekitarnya.
Baca Juga: Urutan Warna Api dari Paling Panas hingga Dingin, Lengkap dengan Penjelasan dan Suhunya
"Gunung laut merupakan laboratorium alami yang menyimpan informasi penting mengenai evolusi geologi, aktivitas vulkanik masa lalu, serta dinamika oseanografi yang memengaruhi kehidupan laut di sekitarnya," ujar Marina.
Menurut Marina, penelitian gunung laut di Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya kemampuan eksplorasi laut dalam. Melalui Indonesia Mission, tim geosains BRIN melakukan pemetaan dasar laut dan eksplorasi sejumlah gunung laut di berbagai wilayah perairan Indonesia.
Pada ekspedisi 2024 di kawasan Cekungan Wet, Laut Banda, tim peneliti berhasil memetakan lebih dari 1.000 kilometer persegi dasar laut sekaligus memperbarui data batimetri kawasan tersebut. Penelitian juga menemukan indikasi longsoran bawah laut (mass wasting), aktivitas vulkanisme purba, jalur patahan yang berkaitan dengan Andaman Fault Line, hingga keberadaan gelembung hidrotermal pada kedalaman sekitar 400 meter.
Sementara itu, ekspedisi di Laut Sulawesi pada 2025 berhasil mengidentifikasi lima gunung laut baru beserta dua fitur geologi bawah laut yang sebelumnya belum terdokumentasikan. Temuan tersebut memperkaya data geologi kelautan Indonesia sekaligus membuka peluang penelitian lanjutan mengenai hubungan bentang alam bawah laut dengan kehidupan yang berkembang di atasnya.
Baca Juga: Mengapa Daun Kaktus Berubah Menjadi Duri? Ini 6 Fakta Ilmiah yang Jarang Diketahui
Marina menambahkan, data hasil ekspedisi tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan riset internal BRIN, tetapi juga mendukung penelitian berbagai perguruan tinggi dan mitra internasional. Kajian lanjutan dilakukan untuk memahami karakteristik hydrothermal plume, sedimen laut, makrofosil, hingga menentukan umur batuan dari lokasi penelitian.
Selain aspek geologi, penelitian juga mengungkap tingginya keanekaragaman hayati di kawasan gunung laut. Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN, Pipit Pitriana, memaparkan hasil penelitian di kawasan Seamount A dan Ridge E di Laut Sulawesi yang memanfaatkan berbagai teknologi modern, seperti Remotely Operated Vehicle (ROV), kapal selam (submersible), pengambilan sampel sedimen, serta analisis environmental DNA (eDNA).
Menurut Pipit, gunung laut bukan hanya sekadar bentang geologi, melainkan juga pusat keanekaragaman hayati yang menjadi habitat berbagai komunitas organisme laut dalam.
"Gunung laut bukan hanya fitur geologi, tetapi juga pusat keanekaragaman hayati yang mendukung berbagai komunitas organisme laut dalam, baik bentik maupun pelagis," jelasnya.
Selama ekspedisi, tim berhasil mengumpulkan sampel dari berbagai stasiun pengamatan dan mengidentifikasi beragam kelompok organisme laut dalam, di antaranya krustasea, moluska, Polychaeta, spons, Echinodermata, hingga karang laut dalam. Temuan tersebut menunjukkan bahwa gunung laut menyediakan habitat yang mampu menopang kehidupan organisme pada kedalaman ratusan hingga ribuan meter.
Baca Juga: Mengapa Suhu Kota Lebih Panas daripada Pedesaan saat Musim Panas? Ini Penyebabnya
Pipit menilai laut dalam Indonesia masih menyimpan peluang besar untuk menemukan spesies maupun informasi ilmiah baru yang penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pengelolaan sumber daya kelautan.
"Data yang kami peroleh menjadi dasar penting untuk memahami hubungan antara geologi, biodiversitas, dan pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan," ujarnya.
Penelitian BRIN juga menyoroti kehidupan mikroba dan plankton laut dalam yang selama ini masih minim dipelajari. Peneliti Pusat Riset Laut Dalam (PRLD) BRIN, Ariyani Hatmanti, mengatakan mikroorganisme merupakan komponen penting dalam ekosistem laut karena berperan dalam siklus biogeokimia, rantai makanan, serta proses dekomposisi bahan organik di laut dalam.
Melalui penelitian di kawasan gunung laut dan sistem hidrotermal, tim peneliti berhasil mengidentifikasi berbagai kelompok mikroorganisme dengan potensi pemanfaatan yang luas. Hasil penelitian menunjukkan adanya 75 isolat bakteri pendegradasi minyak, 52 isolat bakteri pendegradasi plastik, serta 151 strain bakteri baru yang ditemukan di perairan laut dalam Sulawesi Utara.
Menurut Ariyani, temuan tersebut menunjukkan besarnya potensi sumber daya genetik laut dalam Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk bioremediasi pencemaran lingkungan, pengembangan produk bioteknologi, hingga penemuan senyawa bioaktif yang berpotensi digunakan sebagai antimikroba, antikanker, maupun enzim industri.
Meski demikian, pengembangan riset mikroba laut dalam masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama keterbatasan fasilitas untuk kultivasi dan karakterisasi mikroorganisme.
"Eksplorasi mikroba dan plankton laut dalam merupakan investasi ilmiah jangka panjang untuk memahami fungsi ekosistem laut sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan," tutur Ariyani.
Melalui rangkaian penelitian tersebut, BRIN menegaskan bahwa eksplorasi gunung laut Indonesia tidak hanya menghasilkan pengetahuan baru mengenai geologi dan biodiversitas laut dalam, tetapi juga memperkuat landasan ilmiah bagi pengelolaan dan konservasi sumber daya kelautan nasional. Data hasil ekspedisi diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan konservasi laut berbasis bukti sekaligus memperkaya basis data ilmiah mengenai ekosistem laut dalam Indonesia.
Sumber: BRIN