Kenapa Udara Akhir-Akhir Ini Dingin Banget? BMKG Ungkap Penyebabnya

Oleh Sri Wahyuni · · science

Kenapa Udara Akhir-Akhir Ini Dingin Banget? BMKG Ungkap Penyebabnya

Artikel ini juga menjelaskan bahwa suhu dingin tersebut bukan disebabkan oleh fenomena aphelion, melainkan merupakan karakteristik musim kemarau. Selain memaparkan penyebab dan wilayah yang terdampak, artikel ini mengingatkan masyarakat untuk tetap mewaspadai dampak suhu dingin terhadap kesehatan.

SUKAMUDA.co.id - Pernah merasa udara akhir-akhir ini lebih dingin dari biasanya, terutama saat malam sampai pagi? Tenang, kamu nggak sendirian. Fenomena ini memang biasa terjadi saat musim kemarau dan ternyata ada penjelasan ilmiahnya.


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut turunnya suhu udara di wilayah selatan khatulistiwa saat musim kemarau merupakan kondisi yang normal. Fenomena ini biasanya terjadi pada periode Juli hingga September, bertepatan dengan puncak musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia.


Lantas, kenapa udara bisa terasa lebih dingin?


Baca Juga: 5 Hewan dengan Jumlah Kaki Terbanyak di Dunia, Ada yang Memiliki 15.000 Kaki!



BMKG menjelaskan, ada beberapa faktor yang memengaruhinya. Salah satunya adalah kondisi langit yang lebih cerah dan minim awan. Selain itu, ada angin Monsun Australia yang membawa udara relatif kering dan sedikit uap air.


Faktor lainnya adalah posisi geografis, kondisi topografi, ketinggian wilayah, serta kelembapan udara yang relatif rendah.


Kondisi tersebut membuat wilayah di selatan garis khatulistiwa, seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, bisa terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari.


Di Jawa, fenomena udara dingin saat musim kemarau ini bahkan sudah punya istilah sendiri, yaitu bediding atau mbedhidhing.


Wilayah dataran tinggi biasanya merasakan efeknya lebih kuat. Beberapa di antaranya adalah kawasan Bromo, Tengger, dan Semeru, Pegunungan Sindoro-Sumbing di sekitar Wonosobo dan Temanggung, serta Lembang, Bandung.


Bahkan, pada 7 Juli 2024, suhu minimum di Dataran Tinggi Dieng pernah mencapai 1 derajat Celsius sekitar pukul 02.00 WIB.


Kenapa Malam Hari Terasa Makin Dingin?


Secara sederhana, ketika langit cerah dan awan sedikit, panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah lepas ke atmosfer.


Akibatnya, suhu udara di dekat permukaan ikut turun. Inilah yang membuat malam hingga pagi hari terasa lebih dingin, terutama di wilayah dataran tinggi.


Jadi, kalau kamu merasa harus pakai jaket atau selimut lebih tebal saat malam, bukan berarti cuacanya tiba-tiba berubah ekstrem. Fenomena tersebut memang merupakan karakteristik yang biasa terjadi saat musim kemarau.


Bukan Gara-Gara Aphelion


Nah, ada satu hal yang sering bikin salah paham. Suhu dingin saat musim kemarau kerap dikaitkan dengan aphelion, yaitu kondisi ketika Bumi berada pada titik paling jauh dari Matahari.


Namun, BMKG menegaskan bahwa aphelion bukan penyebab utama udara terasa dingin saat musim kemarau.


Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa suhu yang lebih dingin merupakan karakteristik alami musim kemarau. Di Pulau Jawa, kondisi ini dikenal dengan istilah bediding.


Meski normal, bukan berarti udara dingin bisa diabaikan begitu saja. BMKG tetap mengingatkan masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh, terutama bagi mereka yang sensitif terhadap perubahan suhu.


Jadi, kalau belakangan ini kamu merasa pagi-pagi makin dingin, nggak perlu panik. Bisa jadi kamu sedang merasakan fenomena bediding.


Siapkan jaket, selimut, dan jangan lupa jaga kondisi tubuh!


Sumber: BMKG dan Berbagai Sumber

Baca di SukaMuda