Kenapa Makan Terlalu Cepat Bikin Perut Kembung? Ini Penjelasannya
Makan terlalu cepat dapat membuat perut begah, kembung, dan tidak nyaman. Kenali penyebabnya serta cara memperlambat kebiasaan makan.
SUKAMUDA.co.id - Pernah merasa perut mendadak penuh, begah, atau kembung setelah makan meskipun makanan yang dikonsumsi tidak terlalu banyak? Jangan langsung menganggap porsinya sebagai penyebab. Kebiasaan menyantap makanan dalam waktu singkat juga bisa membuat sistem pencernaan terasa tidak nyaman.
Ketika seseorang makan terburu-buru, proses pencernaan sejak awal tidak berlangsung secara optimal. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut bahkan dapat berkaitan dengan munculnya berbagai keluhan pada saluran pencernaan. Lantas, mengapa kecepatan makan dapat memengaruhi kondisi perut? Berikut beberapa alasannya.
Baca Juga: Cara Menentukan Porsi Makan Sehat Tanpa Timbangan, Cukup Gunakan Tangan
1. Pencernaan Sudah Dimulai Saat Makanan Berada di Mulut
Proses pencernaan sebenarnya tidak baru dimulai ketika makanan masuk ke lambung. Tahap awalnya sudah berlangsung ketika makanan berada di dalam mulut. Aktivitas mengunyah akan menghancurkan makanan menjadi bagian yang lebih kecil. Pada saat yang sama, makanan bercampur dengan air liur yang mengandung enzim dan membantu memulai proses pemecahan makanan.
Tahap tersebut membuat makanan lebih mudah diproses ketika mencapai lambung. Sebaliknya, makan terlalu cepat membuat seseorang cenderung mengunyah makanan lebih sedikit. Akibatnya, potongan makanan yang masuk ke lambung masih relatif besar sehingga organ tersebut harus bekerja lebih keras untuk mengolahnya. Kondisi inilah yang pada sebagian orang dapat memunculkan sensasi penuh, begah, atau ketidaknyamanan pada perut.
Baca Juga: Micro-Walk: Jalan Kaki Singkat Ternyata Bisa Bakar Energi Lebih Banyak, Ini Penjelasannya
2. Sinyal Kenyang Tidak Muncul Secara Instan
Rasa kenyang membutuhkan waktu untuk dirasakan tubuh. Ketika makanan mulai masuk ke saluran pencernaan, tubuh mengirimkan berbagai sinyal ke otak untuk memberitahukan bahwa asupan sudah mencukupi.
Proses tersebut melibatkan sejumlah mekanisme hormonal, termasuk hormon leptin dan cholecystokinin atau CCK. Secara umum, tubuh membutuhkan waktu sekitar 20 menit sejak seseorang mulai makan agar sinyal kenyang dapat diterima otak dengan lebih jelas. Masalahnya, orang yang terbiasa makan dengan sangat cepat bisa menghabiskan makanan sebelum sinyal tersebut muncul.
Misalnya, jika satu porsi makanan selesai disantap hanya dalam waktu sekitar lima menit, seseorang mungkin sudah mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih banyak sebelum menyadari bahwa sebenarnya kebutuhan tubuh telah terpenuhi. Akibatnya, perut menjadi terlalu penuh dan rasa tidak nyaman dapat muncul setelah makan.
3. Makan Terburu-buru Dapat Memicu Masalah pada Pencernaan
Ada beberapa alasan mengapa kecepatan makan dapat berhubungan dengan munculnya rasa tidak nyaman pada perut.
Lebih Banyak Udara Ikut Masuk
Makan dengan tergesa-gesa biasanya membuat seseorang mengambil suapan lebih besar, mengunyah dengan singkat, kemudian segera menelannya. Dalam kondisi tersebut, udara juga lebih mudah ikut tertelan. Udara yang masuk ke saluran pencernaan secara berlebihan atau aerofagia dapat menyebabkan berbagai keluhan, seperti perut terasa penuh, kembung, lebih sering bersendawa, peningkatan gas, hingga rasa sakit pada bagian perut.
Lambung Bekerja Lebih Berat
Makanan yang tidak cukup dikunyah akan masuk ke lambung dalam ukuran yang lebih besar. Lambung kemudian perlu melakukan pekerjaan tambahan untuk mengolah dan menghancurkan makanan tersebut.
Dalam prosesnya, lambung mengaduk makanan dan memproduksi asam untuk membantu pencernaan. Pada orang tertentu, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan rasa begah, berat pada perut, atau memperburuk keluhan seperti maag dan refluks asam.
Baca Juga: Jarang Ganti Sikat Gigi? Ini 5 Dampak yang Bisa Mengganggu Kesehatan Mulut
Risiko Makan Berlebihan Meningkat
Kecepatan makan juga dapat memengaruhi jumlah makanan yang dikonsumsi. Karena tubuh membutuhkan waktu untuk mengirimkan sinyal kenyang, seseorang yang makan terlalu cepat berpotensi menambah makanan sebelum rasa kenyang muncul. Semakin banyak makanan yang masuk, semakin besar pula beban yang harus diproses lambung. Pengosongan lambung juga dapat membutuhkan waktu lebih lama sehingga sensasi penuh bisa bertahan lebih panjang.
4. Apa Kata Penelitian?
Hubungan antara kecepatan makan dan kondisi sistem pencernaan telah menjadi perhatian dalam sejumlah penelitian. Salah satu penelitian yang melibatkan lebih dari 10 ribu orang dewasa di Korea Selatan menemukan adanya hubungan antara durasi makan dan risiko gastritis. Peserta yang menyelesaikan makan dalam waktu kurang dari lima menit dilaporkan memiliki risiko sekitar 1,7 kali lebih tinggi mengalami gastritis dibandingkan mereka yang membutuhkan waktu lebih dari 15 menit.
Temuan tersebut diterbitkan dalam Korean Journal of Family Medicine pada 2015.
Selain durasi makan, cara seseorang mengunyah serta jumlah udara yang tertelan juga dapat memengaruhi kenyamanan setelah makan. Kombinasi antara makanan yang kurang dikunyah dan udara berlebih di saluran pencernaan dapat berkontribusi terhadap keluhan seperti kembung, rasa penuh, dan gejala refluks asam.
Baca Juga: Benarkah Mandi Malam Menyebabkan Rematik? Ini Penjelasan Medisnya
5. Bagaimana Cara Mengurangi Kebiasaan Makan Terlalu Cepat?
Jika kamu sering merasakan perut penuh atau tidak nyaman setelah makan, mengubah kebiasaan makan bisa menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dicoba.
Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
Biasakan mengunyah makanan secara perlahan sebelum menelannya.
Gunakan ukuran suapan yang lebih kecil agar makanan lebih mudah dikunyah.
Berikan jeda dengan meletakkan sendok atau garpu setelah memasukkan makanan ke mulut.
Kurangi gangguan seperti ponsel, pekerjaan, atau tontonan selama waktu makan agar lebih sadar terhadap makanan yang dikonsumsi. Berikan waktu yang cukup untuk menyelesaikan makanan, salah satunya dengan menargetkan durasi makan sekitar 20 menit.
Pada dasarnya, makan bukan sekadar memenuhi rasa lapar. Memberikan waktu yang cukup untuk mengunyah dan menikmati makanan dapat membantu tubuh menjalankan proses pencernaan dengan lebih baik sekaligus memberi kesempatan munculnya sinyal kenyang. Jika keluhan seperti kembung, nyeri perut, begah, atau refluks terus berulang dan mengganggu aktivitas, sebaiknya jangan hanya menyalahkan kebiasaan makan cepat. Keluhan yang menetap dapat memiliki berbagai penyebab dan perlu mendapatkan evaluasi dari tenaga medis.
Sumber: dari berbagai sumber