5 Tokoh Belanda yang Dikenal Kejam di Indonesia, Ada yang Terapkan Tanam Paksa

Oleh Muhammad Farhan Al Rasyid · · science

5 Tokoh Belanda yang Dikenal Kejam di Indonesia, Ada yang Terapkan Tanam Paksa

Sejumlah tokoh Belanda dikenal memiliki kebijakan keras selama masa kolonial di Indonesia. Berikut lima tokoh dan kebijakan yang berdampak besar bagi rakyat Nusantara.

SUKAMUDA.co.id - Masa kolonial Belanda di Indonesia berlangsung selama berabad-abad dan meninggalkan berbagai catatan kelam dalam sejarah Nusantara. Sejumlah pejabat Belanda bahkan dikenal karena kebijakan keras yang diterapkan selama menjalankan pemerintahan.


Kebijakan tersebut tidak jarang membuat kehidupan masyarakat semakin sulit. Eksploitasi hasil bumi, kerja paksa, hingga monopoli perdagangan menjadi bagian dari sistem kolonial yang memberikan keuntungan besar bagi Belanda, tetapi menimbulkan penderitaan bagi rakyat. Berikut sejumlah tokoh Belanda yang memiliki peran penting dalam sejarah kolonial Indonesia.


Baca Juga: 5 Hewan dengan Jumlah Kaki Terbanyak di Dunia, Ada yang Memiliki 15.000 Kaki!


1. Pieter Both

Pieter Both merupakan gubernur jenderal pertama Hindia Belanda yang menjabat pada 1610 hingga 1614. Ia menjadi salah satu tokoh penting pada masa awal perkembangan kekuasaan Belanda di Nusantara.


Selama masa kepemimpinannya, Pieter Both terlibat dalam penguatan aktivitas VOC. Ia mendirikan pusat perdagangan di Banten, berupaya mengusir pengaruh Spanyol dari Tidore, serta menjalin perjanjian dengan sejumlah penguasa di Maluku untuk memperkuat monopoli perdagangan rempah-rempah.


Kebijakan penguasaan rempah tersebut memberikan keuntungan besar bagi VOC. Di sisi lain, masyarakat setempat harus menghadapi tekanan karena hasil pertanian dan komoditas yang mereka produksi berada di bawah kepentingan perdagangan Belanda.


Baca Juga: Simpan Kekayaan Hayati dan Ratusan Mikroba Potensial, BRIN Bongkar Rahasia Gunung Laut Indonesia


2. Jan Pieterszoon Coen

Jan Pieterszoon Coen atau J.P. Coen merupakan salah satu tokoh paling terkenal dalam sejarah VOC. Ia menjabat sebagai gubernur jenderal VOC pada 1619-1623 dan kembali menduduki posisi tersebut pada 1627-1629.


Di bawah kepemimpinannya, VOC semakin memperkuat kekuasaan di wilayah Nusantara. Salah satu langkah pentingnya adalah memindahkan pusat kekuasaan VOC dari Banten ke Jayakarta. Wilayah tersebut kemudian dikembangkan menjadi Batavia.


J.P. Coen juga dikenal dengan penerapan strategi divide et impera atau politik adu domba. VOC memanfaatkan konflik antarkerajaan dan kelompok penguasa lokal untuk memperluas pengaruh serta mempertahankan kepentingannya di Nusantara.


Baca Juga: Urutan Warna Api dari Paling Panas hingga Dingin, Lengkap dengan Penjelasan dan Suhunya


3. Herman Willem Daendels

Herman Willem Daendels menjabat sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda pada 1808 hingga 1811. Meski masa pemerintahannya relatif singkat, namanya tetap menjadi salah satu tokoh yang sering dibahas ketika membicarakan kebijakan kolonial yang keras.


Salah satu proyek terbesar pada masa pemerintahannya adalah pembangunan Jalan Raya Pos yang menghubungkan Anyer hingga Panarukan. Jalan tersebut memiliki panjang lebih dari 1.000 kilometer dan dibangun untuk mendukung mobilitas pemerintahan, perdagangan, serta kepentingan pertahanan militer.


Pembangunan jalan tersebut juga dikaitkan dengan praktik kerja paksa dan penderitaan masyarakat. Banyak rakyat dikerahkan untuk mengerjakan proyek tersebut dalam kondisi yang berat, sehingga pembangunan Jalan Raya Pos meninggalkan catatan kelam dalam sejarah kolonial Indonesia.


Baca Juga: Mengapa Daun Kaktus Berubah Menjadi Duri? Ini 6 Fakta Ilmiah yang Jarang Diketahui


4. Godert van der Capellen

Godert van der Capellen menjabat sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda pada 1816 hingga 1826. Ia memimpin setelah kekuasaan Belanda kembali ke Indonesia menyusul berakhirnya pemerintahan Inggris.


Berbeda dengan beberapa tokoh kolonial lainnya, Van der Capellen dikenal memiliki sejumlah kebijakan yang relatif lebih berpihak kepada masyarakat pribumi. Ia berupaya mengurangi monopoli perdagangan rempah-rempah, mengembangkan pendidikan dasar, serta mendukung program vaksinasi cacar.


Kebijakan tersebut membuat pemerintahan Van der Capellen sering dinilai tidak sekeras sejumlah pejabat Belanda lainnya. Meski demikian, pemerintahannya tetap berada dalam kerangka mempertahankan kepentingan kolonial Belanda di Nusantara.


Baca Juga: 4 Tokoh Sejarah yang Selama Ini Dianggap Mitos, Ternyata Benar-Benar Nyata


5. Johannes van den Bosch

Nama Johannes van den Bosch sangat erat kaitannya dengan kebijakan Cultuurstelsel atau sistem tanam paksa. Ia menjabat sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda pada 1830 hingga 1834.


Sistem tanam paksa diterapkan ketika kondisi keuangan Belanda mengalami tekanan, terutama setelah Perang Diponegoro yang berlangsung pada 1825-1830. Belanda membutuhkan sumber pemasukan baru untuk mengisi kembali kas negara.


Melalui Cultuurstelsel, masyarakat diwajibkan menanam tanaman komoditas yang memiliki nilai jual tinggi untuk kepentingan pemerintah kolonial. Kopi, tebu, dan berbagai tanaman perdagangan lainnya menjadi bagian dari sistem tersebut. Kebijakan ini memang berhasil meningkatkan pemasukan Belanda dan memperbaiki kondisi keuangan negara kolonial. Namun, di sisi lain, sistem tanam paksa memberikan beban berat kepada masyarakat pribumi karena lahan, tenaga, dan hasil pertanian mereka harus dialokasikan untuk kepentingan pemerintah kolonial.

Sumber: dari berbagai sumber


Baca di SukaMuda